Featured

Rumah Opium

11Views

Segi Tiga Emas (The Golden Triangle) adalah sebuah wilayah di sekitar pertemuan Sungai Mekong dan anak Sungai Ruak, yang menjadi perbatasan tiga negara, yaitu Thailand, Myanmar, dan Laos.

Sebelum 1980-an, wilayah itu dikenal menjadi sarang narkotik dan obat berbahaya. Pokoknya, wilayah yang terletak sekitar 10 kilometer dari Distrik Chiang Saen atau 72 kilometer dari Bandar Udara Internasional Chiang Rai, Thailand Utara, ini dikenal sebagai pusat pertumbuhan dan jalur perdagangan gelap opium terbesar di dunia.

Kini wilayah “berbahaya” yang melibatkan berbagai kelompok etnis itu bisa dijadikan contoh keberhasilan pemberantasan narkoba.

Area pegunungan Doi Tung seluas 150 kilometer persegi di Chiang Rai, Thailand Utara, terbukti sukses meninggalkan kebiasaan menanam dan memperdagangkan opium, bahkan dapat hidup mandiri serta sejahtera.

Sebagian kawasan ini malah dijadikan daerah ekoturisme yang menghasilkan banyak devisa.

Mae Fah Luang Foundation (Yayasan Ibu Suri dari Langit), sebuah yayasan dalam bentuk swadaya masyarakat di Thailand, mampu memberdayakan masyarakat di sekitar wilayah itu.

Proyek pemberdayaan dengan nama Doi Tung Development Project atau Proyek Pembangunan Doi Tung lahir untuk membangun wilayah pegunungan Doi Tung, yakni dalam hal mengintegrasikan perbaikan dan pelestarian alam dengan pembangunan sosial, budaya, dan ekonomi penduduk yang hidup di wilayah itu.

Proyek yang dijalankan melalui Mae Fah Luang Foundation langsung berada di bawah pengawasan Ratu Srinagarindra (ibu kandung Raja Thailand Bhumibol Adulyadej).

Sang Ratu melibatkan berbagai disiplin ilmu, yang membutuhkan kolaborasi dan sinergi aksi antara beberapa instansi pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat, terutama Medical Volunteer Foundation miliknya.

Visinya, setiap desa di Thailand bebas opium. Dan desa yang sudah “bersih”–bukan hanya dalam hal menanam, tapi juga dalam hal memperdagangkan barang haram tersebut–akan mendapat sertifikat dari pemimpin dan semua warga setempat, perlambang bahwa desa itu sudah mampu bebas dari opium.

Pada 1995, baru ada satu desa yang bebas opium. Enam tahun kemudian, jumlahnya bertambah tujuh, dan pada 2004 bertambah lagi empat desa. Pada tahun ini sudah ada tiga desa yang menyatakan ingin bebas dari opium. Tinggal 12 desa lagi yang belum berani menyatakan diri bebas opium.

Harapan yang Sama Ada di Aceh. Indonesia tentu saja dapat menerapkan apa yang dilakukan Mae Fah Luang Foundation, khususnya di daerah yang penduduknya masih menanam ganja.

Meski di Indonesia tidak ada ladang opium, esensi dari program ini adalah pemberdayaan masyarakat produsen bahan dasar narkotik.

Badan Narkotika Nasional menjalankan alternative development program yang melibatkan para pemuka Aceh, aktivis sosial, lembaga swadaya masyarakat, Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh, serta asisten dari Mae Fah Luang Foundation.

Yang menjadi pilot project Badan Narkotika Nasional adalah daerah Lamteuba, Kecamatan Seulimeum, sekitar 60 kilometer dari Banda Aceh.

Lahan yang disediakan untuk pilot project ini diperkirakan seluas 60 hektare. Para penduduk akan mengganti penanaman pohon ganja ke tanaman yang cocok dengan daerah dan budaya setempat, seperti kopi dan durian.

Aula Opium. Mungkin beberapa waktu lagi akan dibuat museum ganja di Aceh, seperti halnya ketika tak ada lagi opium di kawasan Segi Tiga Emas.

Di Segi Tiga Emas itulah terdapat aula tempat pemusatan informasi tentang narkoba, dari bunga candu sampai pengertian tentang sejarah opium.

Area ini mengombinasikan pameran jenis opium dan dampak ilegal narkotik lewat simulasi multimedia.

Jika memasuki rumah opium itu, kita akan disuguhi aura kawasan tersebut sebelum banyak yang bertobat. Dari terowongan berasap sepanjang 130 meter, kita disuguhi relief dan sejarah opium.

Kemudian ada panorama benda purbakala, foto, serta klip film dan video orang ternama yang melibatkan diri dalam relasi kejahatan dengan obat-obatan terlarang. Terdapat pula presentasi tiga dimensi.

Aula opium di Taman Segi Tiga Emas itu memang menyajikan suatu misteri dunia opium. Saat kita masuk ke situ, bulu tangan akan bergidik mengetahui bagaimana perjalanan narkoba memang melibatkan mafia dan lintas negara. Bahkan melakukan invasi atau menggoyang suatu negara bisa melalui “operasi opium”.

#OPIUM; Adalah bahan baku narkotik yang diperoleh dari kelopak bunga yang belum matang.

Dari Bunga ke Heroin

  1. Bunga opium: Bunga hasil persemaian tiga bulan itu ditanam. Daun bunganya jatuh dan mengeluarkan kelopak bibit yang tumbuh sebesar telur.
  2. Kelopak bibit: Menghasilkan opium selama 10-12 hari saat masak. Petani “melukai”-nya sehingga getah menetes pelan-pelan.
  3. Opium kasar: Diambil dari getah yang mengental jadi cokelat. Dibentuk jadi bola atau kotak, dijual di pasar gelap.
  4. Morfin: Diesktrak dari opium dengan penyulingan kimiawi. Getah direbus, disaring, dan dikeringkan, siap untuk dijadikan rokok atau diproses lebih lanjut menjadi heroin.
  5. Heroin: Melalui sejumlah tahapan pemurnian hingga menjadi bubuk putih halus yang dapat larut di dalam air atau disuntikkan.

Tinggalkan Balasan