Uncategorized

Memata-matai Mata

Buta Warna

41Views

HealthNews — Alah bisa karena biasa. Begitulah awal kehidupan para penderita buta warna. Ketika seorang anak sudah dianggap mampu mengenal warna dan bentuk benda, orang tuanya akan mengajarinya secara berulang-ulang.

Sejalan dengan pertambahan umur, anak itu menjadi terbiasa dengan apa yang dipelajarinya. Sedemikian terbiasanya hingga dia dan orang-orang dekatnya tidak pernah menyadari jika ada kelainan pada penglihatannya, sampai kemudian dia harus menjalani tes buta warna.

Ambil contoh, ketika dia diberi tahu bahwa daun berwarna hijau. Orang-orang di sekelilingnya juga mengatakan hal yang sama, hingga dia pun yakin bahwa daun berwarna hijau. Namun, dia tidak pernah tahu apakah daun itu berwarna hijau kemerahan atau hijau kekuningan. Karena, yang terpatri dalam ingatannya daun itu berwarna hijau.

Pada dasarnya, para penderita buta warna mengalami kesulitan dalam membedakan warna tertentu. Di sisi lain, buta warna sebenarnya dapat diketahui secara dini, jika anak secara aktif diajari mengenal warna dan nuansanya. Seperti halnya ketika kita mengajari anak mengenal huruf atau bentuk benda. Namun sayang, tindakan ini tidak pernah dilakukan.

Ishihara merupakan tes yang akurat dan cepat untuk mendeteksi apakah seseorang menderita buta warna atau tidak. Tes ini diberi nama seperti nama penemunya, berbentuk buku berisi angka, atau bentuk benda yang berada dalam lingkaran yang tersusun dalam berbagai warna.

Dalam perkembangannya, Ishihara digantikan Farnsworth. Tes ini dinilai lebih akurat karena menuntut keaktifan seseorang dalam menyusun warna dan nuansanya menjadi satu kesatuan. Melalui Farnsworth dapat diketahui apakah seseorang benar-benar mengenal warna dan nuansanya atau hanya hafal, karena perubahan antarwarna itu sedemikian tipis.

Melalui Farnsworth pula, tipe kebutawarnaan seseorang dapat dideteksi: apakah buta warna tipe protane (merah-biru kehijauan), deutane (hijau-merah keunguan), atau tritane (violet-kuning kehijauan). Secara umum, dikenal dengan buta warna tipe merah-biru, merah-hijau, dan merah-kuning.

Secara umum fungsi mata sebagai alat untuk melihat. Di samping itu, mata mempunyai kemampuan untuk mengetahui seberapa luas dapat memandang suatu objek, seberapa banyak warna yang dapat ditangkap, dan seberapa peka dalam menangkap cahaya.

Dalam hal ini, buta warna dapat diartikan sebagai kekurangmampuan mata dalam menangkap warna yang dipancarkan suatu objek.

Dilihat dari asalnya, buta warna berasal dari dua faktor. Pertama, faktor bawaan/keturunan. Ini terjadi pada anak laki-laki yang mendapatkan gen buta warna dari ibunya.

Ibu yang membawa gen buta warna akan menurunkannya kepada anak laki-lakinya. Sebaliknya, ayah yang menderita buta warna tidak akan menurunkan gen itu kepada anak-anaknya, karena gen ibu lebih kuat daripada ayah.

Jika pria penderita buta warna menikah dengan wanita pembawa gen buta warna, anak-anak yang dilahirkan sebagian akan menderita buta warna (khususnya anak laki-laki) dan sebagian yang lain sebagai pembawa gen buta warna (terutama anak perempuan).

Kedua, buta warna karena didapat. Terjadi pada seseorang dengan penglihatan normal, namun kemudian mengalami detoksifikasi obat, baik medis (obat untuk TBC) maupun terlarang (narkoba). Akibatnya, kepekaan mata terhadap warna berkurang. Melalui proses yang lama, kondisi ini dapat berlanjut menjadi buta total.

Buta warna juga dapat disebabkan minuman berkadar alkohol tinggi atau alkohol oplosan. Minuman ini bereaksi sangat cepat. Sedemikian cepatnya, hingga orang yang meminumnya akan langsung buta total, sebelum sempat menyadarinya.

Catatannya adalah, buta warna tidak akan pernah dapat dihindari atau dicegah. Penelitian tentang itu pun tidak pernah ada. Soalnya, gangguan pada mata ini tidak berdampak apa pun bagi penderitanya. Mereka dapat hidup dan bekerja secara normal.

 

 

 

Tinggalkan Balasan