Featured

 Suplemen Kebugaran Otak, Benar Tokcer Bikin Otak Encer?

19Views

Suplemen kebugaran otak bermunculan di pasar. Janjinya sama: biar otak tetap encer dan mengusir penyakit lupa. Dari berbagai penelitian ketahuan bahwa penyakit lupa justru menyerang mereka di usia produktif.

****

Ibu separuh baya itu gelisah. Sejak siang, ia menunggu suaminya datang menjemputnya. Namun, yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Lelah menunggu, dia memutuskan untuk pulang dari pasar swalayan itu.

Sesampai di depan rumah, dia bak tersengat listrik. Pria yang ditunggu kedatangannya di pasar ternyata malah asyik membaca koran. Malah dia sendiri yang membukakan pintu untuk istrinya itu. Namun dengan polos, seperti tak punya salah, dia berkata, “Aduh, maaf, Ma, papa lupa….”

Adegan itu hanya ada dalam sebuah iklan minuman suplemen untuk otak. Namun, pesannya tak sulit ditangkap. Penyakit lupa bisa diusir. Buktinya, setelah minum obat berwarna oranye itu, tak ada lagi pesanan yang lompat dari otaknya. Tak salah lagi, suplemen ini memang tokcer dan bikin otak jadi encer.

Penyakit lupa merupakan gejala terjadinya kemunduran memori. Telah banyak penelitian yang menunjukkan, penyakit ini sangat berhubungan dengan usia seseorang. Semakin tua dia, semakin cenderung pula menjadi pelupa.

Meski lupa merupakan konsekuensi dari bertambahnya usia dan tak bisa ditepis kedatangannya, toh, banyak orang langsung belingsatan ketika penyakit ini menerjang. Bukan apa-apa, terkadang belum lagi usia beringsut pergi jauh, mereka sudah kehilangan banyak memori.

Nah, Apa Sebabnya?

Vladimir Sloutsky, Director Center for Cognitive Science di Ohio State University, Amerika Serikat, menyimpulkan, orang dewasa cenderung pelupa.

Vladimir mengambil kesimpulan itu setelah menguji kekuatan ingatan memori antara orang dewasa dan anak-anak.

Dua golongan yang secara usia jauh berbeda ini dijadikan variabel, untuk membuktikan bahwa kemunduran memori ternyata justru dimulai di usia produktif (dewasa).

Hasilnya, sebanyak 31% anak-anak bisa mengingat secara akurat, sedangkan orang dewasa hanya 7%. Penelitian ini menyanggah argumentasi bahwa usia produktif merupakan rentang waktu di mana seseorang memiliki kekuatan otak yang paling baik.

Kelemahan otak alias suka lupa pada orang dewasa semakin diperkuat oleh tim Pusat Riset Rank Xerox, sebuah laboratorium di Manchester, Inggris, produsen berbagai alat untuk mengatasi kegagalan memori.

Mereka melakukan riset, dan hasilnya menyimpulkan bahwa kemunduran memori ternyata mulai dialami oleh orang dewasa di usia akhir 20 tahunan.

Tim Xerox menuding, kehidupan yang semakin kompetitif adalah salah satu penyebabnya. Ini bisa ditengarai dengan semakin panjangnya jam kerja kantor.

Tuntutan kehidupan juga membuat orang menjadi bunglon pekerja alias mendobel. Entah menjadi dosen luar biasa atau konsultan.

“Kehidupan yang sangat sibuk memungkinkan Anda menjadi pelupa,” kata Dr. Abigail Sellen, salah seorang peneliti.

Sellen mengacu kepada penelitian yang dilakukannya terhadap lima belas ribu manajer dan eksekutif di Insead, sebuah sekolah bisnis di Eropa. Selama lima tahun, angka yang menyatakan memori dan konsentrasi merupakan persoalan besar meningkat dari 15% menjadi 25%.

Kesibukan, seperti diungkapkan dr. Michael McGannon, kepala bagian Pendidikan Bisnis Kesehatan Insead, bisa menenggelamkan seseorang dalam suasana tertekan yang bisa berakibat buruk, yakni kegagalan memori.

Memakai Suplemen: Sangat beralasan apabila begitu banyak obat atau suplemen otak yang bertebaran di pasaran bebas.

Melalui iklan mereka di media massa, jelas, suplemen-suplemen tersebut seolah sangat berkhasiat, laksana mampu menyuntikkan kecerdasan ke dalam otak begitu mudahnya.

Benarkah? Tidak pernah ada pengujian terhadap suplemen itu,” katanya.

Suplemen berbeda dengan vitamin-vitamin, seperti vitamin E yang telah diteliti sangat baik bagi otak karena memiliki aktivitas antioksidan.

Untuk vitamin, telah banyak dilakukan penelitian yang membuktikan kegunaannya. Sedangkan bahan-bahan yang terkandung dalam suplemen, seperti ginkgo biloba, dan lain-lain, hingga saat ini masih dalam perdebatan.

Perdebatan itu tak hanya menyangkut bahan dasarnya, tetapi juga dosisnya. Para pengguna biasanya mengonsumsi suplemen itu mengacu pada aturan pakai yang tertera di boksnya.

Masyarakat Perlu Hati-hati.

Melihat apakah suplemen itu baik atau tidak, telitilah zat-zat yang dikandungnya. Sepanjang suplemen makanan tersebut mengandung zat antioksidan, efektivitasnya dapat dijamin.

Yang paling mendasar, tidak melihat suplemen sebagai pengganti gizi otak. Ia menganjurkan untuk mengonsumsi makanan yang sehat dan bergizi. Usahakan beragam, karena otak tidak membutuhkan satu jenis gizi saja. Misalnya, otak juga membutuhkan kolesterol, dan itu bisa didapat dalam susu.

Selain itu, batasi mengonsumsi bahan makanan yang berpotensi mengurangi suplai oksigen ke otak, seperti makan garam, gula, dan lemak secara berlebihan.

Aktivitas buruk yang merupakan perilaku umum laki-laki seperti merokok, minum minuman beralkohol, dan kopi, sebaiknya dihindari pula.

Selain pasokan makanan, kualitas otak bisa ditingkatkan dengan cara memberinya latihan-latihan kecil, secara terus-menerus. Ringan, kok. Sering-sering saja mengisi Teka-Teki Silang, mengaji, rileks, rekreasi, atau membaca.

Olahraga merupakan salah satu aktivitas fisik yang sangat baik dalam mempertahankan keutuhan struktur otak. Jadi, otak encer tak bisa didapat secara instan!

Bahan-Bahan Pemicu Ingatan

Sebenarnya, tak ada salahnya suplemen dibuat. Jelas ada manfaatnya, minimal untuk membantu proses stimulasi. Dari sekian banyak suplemen yang beredar di pasaran, ada yang terbukti manjur, tapi ada pula yang memiliki efek samping. Umumnya, dalam setiap suplemen mengandung zat-zat sebagai berikut:

Ginkgo Biloba. Daun pohon hias ini mampu membantu meningkatkan aliran oksigen ke dalam otak, selain berfungsi sebagai antioksidan. Ada penelitan yang mengungkapkan, ginkgo memunyai zat antioksidan.

Seperti halnya vitamin E, ginkgo dapat melumpuhkan radikal-radikal bebas yang sering merusak sel tubuh. Tetapi, gingko lebih manjur dikonsumsi orang-orang lanjut usia yang memang mengalami kemunduran fungsi otak.

Vitamin E. Antioksidan ini membantu mencegah penyakit jantung dan meningkatkan fungsi kekebalan. Studi awal memberikan harapan bahwa vitamin ini juga bisa memperlambat perkembangan Alzheimer. Tapi, tidak seorang pun bisa membuktikan bahwa vitamin ini dapat meningkatkan memori orang sehat.

DHEA. Setelah usia melewati gerbang 30, kelenjar adrenalin mulai ngambek sehingga produksi hormon adrenalin semakin berkurang dan berkurang. Percobaan dengan menggunakan tikus yang diberi suplemen DHEA ternyata unggul dalam tugas-tugas pembelajaran. Belum jelas apakah demikian hasilnya jika diujicobakan kepada manusia.

Aspirin. Penggunaan secara berkala nonsteroidal anti-inflamatories seperti aspirin dan ibuprofen mampu menghambat serbuan Alzheimer. Obat ini bisa menimbulkan gangguan perut, tapi versi yang baru mungkin tidak.

Estrogen. Selain menurunkan risiko penyakit Alzheimer pada saat pascamenopause pada wanita, estrogen pun membantu menyokong fungsi otak. Penyelidikan menyimpulkan bahwa terapi penggantian estrogen membantu memperbaiki ingatan verbal dan visual.

DHA. Asam lemak omega-3 ini berlimpah-limpah dalam ASI, sangat penting bagi perkembangan otak bayi. Tak seorang pun bisa menunjukkan bahwa hal itu meningkatkan kognisi di kemudian hari, tapi sebagai suplemen, DHA sangat populer.

 

Tinggalkan Balasan