Lifestyle

Tuntas Peras Obesitas

Gemuk, Umur Bisa Jadi Pendek?

14Views

HealthNews– MUSUHNYA bernama timbangan. Tiap kali berdiri di atas kotak gepeng itu, jantungnya langsung berdebar keras. Jarum kecil tak pernah mau meninggalkan angka 100. Seperti remaja yang banyak jerawat, Dwi Heryanto pun panik. Penampilannya bak karung beras bergerak.

Bobot manajer sebuah hotel mewah ini memang sudah lampu kuning. Di usianya yang ke-38, beratnya mencapai 120 kilogram. Melihat penampilannya yang gembrot dan tidak proporsional itu teman-temannya mengecapnya dengan sebutan “Dugem” alias “Duwi Gembrot”.

Biarpun ada pemeo “Big is Beautiful”, tetap saja badan gembrot tidaklah menyenangkan. Selain tidak enak dilihat, penyakit pun bisa datang menyergap.

Menurut hitungan tingkat kegemukan terbaru versi WHO (lihat: How Fat Are You), berat Dwi yang kelewatan itu boleh digolongkan sebagai kegemukan fatal atau obesity morbid. Kegemukan macam ini merupakan salah satu pencabut nyawa.

Di Amerika Serikat, kegemukan berlebih ini menjadi pencabut nyawa nomor satu.

Data American Obysity Association yang terangkum dalam Antiaging Medical News edisi tahun lalu, mengungkapkan bahwa 69 juta penduduk Amerika Serikat mengalami overweight (kelebihan berat badan), dan 51 juta lainnya menderita obesitas fatal.

Khusus angka untuk overweight terjadi pada 61% penduduk dewasa di atas usia 20 tahun. Lalu, 26% selebihnya adalah obesitas. Ini yang bahaya: lebih dari 30% kematian orang dewasa di Amerika Serikat disebabkan oleh obesitas fatal, akibat buruknya pola makan dan kurang olahraga.

Bukan menakut-nakuti, biasanya jika seseorang sudah mencapai kegemukan fatal, semangat tinggi untuk menguruskan badannya menjadi sia-sia. Bukan apa-apa, belum lagi kurus tiba, penyakit sudah telanjur datang.

Menakutkan, memang. Tak pelak, berbagai cara memang kerap dilakukan orang gendut. Seperti yang dilakukan Dwi. Selama lima tahun, dia berupaya keras menguruskan diri. Pil diet yang sudah dia telan, mendatangi ahli pun dilakukan, termasuk melakoni berbagai program penurunan berat badan. Hasilnya, kantongnya terus bobol, tapi tetap saja dia gembrot.

Hingga suatu berita bagus itu datang saat dia mengobrol di internet dengan seorang kawannya di Bandung. Di Kuala Lumpur ada ahli yang bisa meluruhkan berat badan. Lagi-lagi harapan terang.

Jauh di lubuk hatinya, bukan semata kepengin kurus, tapi dia ngeri dengan penyakit yang menguntit. Untuk itulah dia mau melakukan operasi, meski biayanya menggerogoti tabungannya. Sekali operasi biayanya mencapai 35 ribu ringgit atau sekitar Rp85 juta. “Saya cuma takut tidak punya umur panjang,” katanya, sambil tersenyum kecil.

Dwi langsung mencoba. Eh ajaib, dua bulan berikutnya, beratnya susut hingga setengah dari berat awal. Dwi sekarang kelihatan singset dengan beratnya yang hanya 60 kilogram.

Apa yang dilakukannya di sana? Menenggak pil mujarab? Tidak. Dwi hanya berbaring selama empat hari di Pantai Cheras Medical Centre, Kuala Lumpur. “Selama dua jam perut saya dibedah, lalu dimasukkan silikon penghilang nafsu makan,” katanya.

Gara-gara silikon yang ditanam di perutnya itu, dia tidak lagi buas menyantap makanan. Biasanya, dalam sehari dia makan tiga kali, mengunyah camilan seperti cokelat, es krim, permen, dan jenis junk food. Nah selepas operasi itu, dia mengaku sudah kekenyangan, padahal dia cuma makan sebanyak empat ons.

Operasi ini merupakan alternatif baru tindakan bedah yang tergolong unik. Cara baru ini dikenal dengan nama Laparoscopic Adjustable Gastric Banding (LAGB).  Silikon yang ditanam di seputar perut itu berfungsi sebagai pengontrol makanan yang masuk. Meskipun hanya berlangsung dua jam, operasi ini berhasil menekan selera makan, menakar jumlah yang masuk ke perut dan melancarkan pencernaan.

Pembedahannya dilakukan dengan sayatan seminimal mungkin. Lalu, lingkaran silikon diikatkan pada bagian atas perut (lambung). Lambung pun terbagi dua dengan meninggalkan sedikit bukaan kecil yang disebut stoma. “Bisa dibilang dengan stoma inilah kita akan menyetel selera makan,“ kata Widya Murni, seorang ahli bedah, yang juga Sekretaris Umum Perkumpulan Awet Sehat Indonesia.

Yang istimewa, stoma ini bisa diubah besar kecilnya melalui access port tanpa pembedahan lagi. “Tidak ada efek samping sama sekali, kecuali jika terjadi komplikasi pada pembedahan, tapi itu, kan, lain soal,“ tandas Widya.

Permukaan lap-band tersebut berupa balon yang disambungkan ke access port dengan seutas tali panjang. Untuk membuktikan cara kerjanya, dokter bedah dapat memakai jarum halus untuk mengubah besar kecilnya stoma setelah pembedahan usai. Pengaturan tersebut dilakukan pada access port di kulit perut si pasien.

Larutan air garam akan dimasukkan, dan jumlahnya bisa ditambah atau dikurangi untuk menggembungkan balon. Jika perkembangan pascaoperasi cukup baik, pasien perlu menggembungkan balon untuk mengoptimalkan pengurangan berat badannya. “Sebab, jalan dari perut atas ke bawah semakin sempit, sehingga makanan yang dikonsumsi semakin sedikit,” ujar Widya.

Hasil operasi ini memang tidak jauh seperti pengalaman Dwi Heryanto. Menurut Widya, rata-rata pasien bisa menurunkan setengah sampai dua pertiga berat badannya dalam waktu 18 sampai 24 bulan. Persis kata Dwi, pasien akan merasa kenyang meski hanya makan tiga sampai empat ons sehari. Setelah itu, makanan akan masuk ke bagian bawah perut yang lebih besar untuk menerima proses pencernaan.

“Sejak itu saya tidak lagi mengenal siklus lapar setelah bangun pagi,” ujar Dwi, di lain kesempatan. Dia mengakui, keinginan makan tidak lagi menjadi bagian terpenting dalam hidupnya. Tetapi bagaimanapun, keberhasilan lap-band tetap membutuhkan motivasi dan semangat tinggi individu yang ingin “memperpanjang” hidupnya.

 

 

Boks:

 

 

Muhammad Latif

Tinggalkan Balasan