Lifestyle

Pria Rentan Botak; Maka Cegahlah Rambut Rontok

Jangan Dipanggil Umar, istilah dari “Untung Masih Ada Rambut”.

17Views

HealthNews –Kerontokan memang masalah rambut yang umum dialami orang Indonesia. Mulai ketidakseimbangan hormon atau genetika (formasi dihydrotestosterone), stres, sakit berkepanjangan, ketombe, sampai infeksi kulit kepala menjadi muara sebabnya.

Semua mengakibatkan lemahnya sirkulasi darah serta hilangnya nutrisi pada akar rambut, yang sudah pasti menyebabkan kerontokan.

Bisa dikatakan salah satu penyebab kerontokan paling umum adalah pembentukan dihydrotestosterone (DHT). Baik pria maupun wanita memiliki testosteron di sistem tubuhnya. “Tapi pria memiliki testosteron yang lebih banyak ketimbang wanita, sehingga umumnya kebotakan lebih banyak dialami mereka,” kata dr. Eddy Karta, Sp.K.K.

Hormon pria ini sebenarnya membantu proses produksi sperma. “Namun, akibat bereaksi dengan enzim 5-alpha-reductase di dalam tubuh, hormon ini berubah menjadi dihydrotestosterone,” ujar Eddy. Umumnya ini terjadi pada 95 persen pria dan 33 persen wanita

Eddy bertutur, setelah DHT terbentuk, hormon ini akan mengalir menuju kelenjar batang rambut dengan sebum. Lalu, ketika mencapai pembuluh darah, DHT akan memotong persediaan darah ke akar, menekan kelenjar rambut, dan menghalanginya dari nutrisi penting. Inilah penyebab rontok dan botaknya rambut di kulit kepala pria lebih banyak terjadi ketimbang wanita.

Menurut Eddy, testosteron cenderung merupakan bawaan individu. Semakin tinggi kadar DHT, proses kebotakan kepala semakin cepat. Dus, pria yang dilahirkan orang tuanya dengan kadar DHT rendah tentu jarang mengalami kebotakan.

Biasanya, untuk mencegah kerontokan, orang menggunakan obat yang mengandung minoxidil. Manjur memang, meskipun sebetulnya minoxidil khusus menyembuhkan penyakit darah tinggi. Namun, obat ini tidak cukup ampuh karena hanya menyembuhkan 40 persen pemakainya.

Perhatian orang kemudian beralih ke obat finasteride. Konon, golongan obat ini mampu mengatasi kebotakan 83 persen pasien pria. T

api, sama halnya dengan minoxidil, penemuan finasteride sebagai obat rontok atau botak pun merupakan sebuah “kebetulan”.

Maklum, kandungan finasteride sebenarnya diperuntukkan sebagai penyembuh prostat yang membesar. Pembesaran prostat ini disebut dengan benign prostatic hyperplasia.

Boleh jadi kedua golongan obat tersebut dirasakan cukup efektif mencegah kebotakan. Sebaliknya, risikonya juga tinggi. Keduanya bisa mengganggu libido, membuat pria lamban berereksi, dan sedikit mengurangi produksi air mani.

Rambut Kuat, Vitalitas Mantap.

Siapa bilang rambut hanya mahkota wanita? Rambut juga mahkota buat kita, kaum pria. Sayangnya, sebagian besar dari mereka menjelang berusia 40 tahun mulai bermasalah pada mahkotanya. Tipis dan cenderung rontok, meskipun tak selamanya akan botak.

Seperti Herry, ada pria yang rambutnya menipis dan rontok di bagian depan hingga tengah kepala. Tak sedikit pula, ada yang hanya botak di bagian tengah hingga separuh kepala belakang. “Yang parah ketika ini terjadi secara perlahan mulai bagian tengah lalu menipis secara merata membentuk lingkaran dan akhirnya betul-betul botak,” kata Eddy.

Mirisnya, kerontokan rambut dengan jumlah sangat banyak kadang tidak dapat dicegah dengan hair tonic secara rutin ataupun creambath. Pada prinsipnya, baik creambath maupun hair tonic bertujuan untuk menyuburkan akar rambut.

Intinya, tonik berguna memberikan nutrisi pada akar. Sebab, memang, kerontokan cenderung mulai terjadi ketika nutrisi semakin berkurang sehingga tak mampu menyuburkan akar. Jadi, selama kepala masih memiliki akar rambut yang baik, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Obat mungkin efektif. Namun, yang lebih penting, rambut tidak rontok tanpa obat. Asalkan dapat dengan rutin merawat akar rambut itu sebaik-baiknya. Sebab, sejatinya, pria juga bisa memiliki mahkota indah tapi kemampuan seksualnya tetap stabil tanpa obat.

Kalau setiap pria rajin mengikuti anjuran itu, Bung Herry tak hanya bisa pasrah atau risi lagi saban kali berkenalan dengan rekan bisnis baru. Pun, Herry tak perlu memakai nama aliasnya saat berkenalan: ”Nama saya Umar.”

 

Tinggalkan Balasan